Tuesday, February 10, 2009

Biarkan hati yang bicara

“Seorang hamba akan tetap berada dalam kebaikan selama ia masih bisa menasehati dirinya sendiri dan selalu memelihara untuk menghitung-hitung dirinya sendiri.” (Hasan Al Bashri)
Allah tidak pernah menjanjikan hari-hari kita akan berlalu tanpa sakit, berhias tawa tanpa kesedihan, berselimut senang tanpa kesulitan, terpancari matahari tanpa hujan, atau selalu siang tanpa malam. Tapi yang pasti, jika kita mau, Allah menjanjikan kita kekuatan untuk melalui kehidupan kita hari ini. Jika kita mau, Allah menjanjikan kita dengan kasih sayangNya yang tak kenal batas dan tak pernah berhenti. Jika kita mau, Allah memberikan pelita kepada kita untuk bisa melalui hidup ini dengan selamat.

Saudaraku,
Janji-janji itu harus kita rengkuh. Kita harus menapaki langkah demi langkah untuk memperoleh kekuatan yang Allah janjikan. Agar kita dapat menuju kasih sayang Allah. Agar pelita itu bisa kita gengggam. Agar kasih dan sayang yang Ia janjikan bisa mengalir dan membasahi jiwa.

Saudaraku,
Ketuklah pintu hati kita masing-masing. Buka dan bicaralah padanya. Kesulitan dan kepahitan adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan. Nasehatilah jiwa, pahamkan keinginannya, agar tetap berada pada jalan Allah, betapapun keadaannya. “Seorang hamba akan tetap berada dalam kebaikan selama ia masih bisa menasehati dirinya sendiri dan selalu memelihara untuk menghitung-hitung dirinya sendiri,” ujar Hasan Al Bashri. (Ighatsatul Lahafan, Ibnul Qawim, 71)

Keselamatan hidup ada pada seberapa mampu kita mengawal dan memelihara jiwa kita dalam menempuh hidup. Buka kembali kisah para salafushalih yang kerap memeriksa dan memelihara langkah-langkah kehidupannya. Ibnu Abi Dunya meriwayatkan sebuah peristiwa yang dialami oleh seorang shalih bernama Ibnu Simmah saat ia berusai 60 tahun. Ibnu Simmah terkejut menghitung hari-hari yang sudah ia lewati, ternyata lebih dari dua puluh satu ribu lima ratus hari. Ia berteriak, “Saya harus bertemu Allah dengan dua pulu satu ribu dosa? Bagaimana bila saya melakukan seribu dosa dalam satu hari?”

Bentuk pengawalan dan pemeliharaan hidup yang dialami Muhammad bin Wasi’, lebih ketat lagi. Sampai-sampai ia pernah mengatakan, “ Seandainya dosa itu mempunyai bau, niscaya tak seorangpun yang tahan duduk berdampingan denganku.” Ungkapan Muhammad bin Wasi’ muncul dari kemampuannya berdialog dengan dirinya sendiri. Semoga kita diberi kemampuan untuk jujur menilai diri sendiri. Terbuka, menerima dan pasrah. Jangan biarkan hati ternoda oleh kedustaan yang kita adakan sendiri. Jangan jadikan jiwa kita cacat oleh kebohongan yang kita munculkan sendiri. Biarkan hati kita bicara tentang diri kita sendiri.

Saudaraku,
Jangan sekali-kali melawan suara hati, menyelewengkan nurani, apalagi berdusta pada diri sendiri. Ibnul Qayyim memandang, tahapan dusta yang paling pertama berawal dari keberanian seseorang untuk melawan dan mendustai dirinya sendiri. Dari sana, kedustaan menyebar pada perkataan, kemudian pada perilaku dan perbuatan. “Kebohongan berawal dari jiwa. Tahap berikutnya merembet pada lisan dan merusaknya, kemudian merembet pada anggota badan dan merusak segala perbuatan. Dan, akhirnya kebohongan itu menyelimuti perkataan, perbuatan dan segala keadaan. “Persis sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Sesungguhnya kedustaan itu dapat menyebabkan perbuatan dosa, dan perbuatan dosa dapat menyebabkan pada neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim). Karena itulah, Rasul pernah menyatakan bahwa keimanan dan dusta tak pernah bersatu.

Saudaraku dijalan Allah,
Kepekaaan seseorang untuk mendeteksi perilaku dusta, ada pada kekuatan imannya kepada Allah. Kekuatan seseorang untuk mampu meninggalkan kebohongan, yang mungkin sementara akibatnya pahit. Kekuatan itu ada pada kesadaran seseorang dengan kekuasaan Allah Yang Maha Mengetahui dan Maha Melihat.

Berlaku jujur yang berakibat kesulitan, boleh jadi berat. Sedangkan ketika membawa keuntungan sementara, mungkin nikmat. Tapi tahanlah kesulitan yang sedikit. Biarkan tubuh menahan berat yang tak seberapa. Asal itu akan membawa kenikmatan besar dan kebaikan yang banyak. Jauhi kenikmatan yang sedikit, bila itu akan berakibat pada rasa sakit dan kesesatan yang panjang. Bohong adalah kemaksiatan yang boleh jadi terasa nikmat di awalnya. Tapi selanjutnya ia pasti akan membawa dampak buruk dan menyakitkan.
Berdusta adalah kemaksiatan yang bisa saja menenangkan hati untuk sementara. Tapi setelah itu, dusta akan membawa pada kegelisahan dan menghilangkan ketenangan yang lama. Renungkanlah pesan Ibnul Qayyim rahimahullah, “Jauhi kemaksiatan, karena ia akan menghapus pahala sujudmu dan mengeluarkanmu dari ketentraman.”
Semoga Allah limpahkan kepada kita kekuatan untuk mampu memikul sakit dan beratnya melakukan ketaatan yang sedikit, untuk bisa meraih kebaikan dan keringanan di akhirat.

Saudaraku,
Ketaatan tak selalu menjanjikan jalan hidup yang mulus. Bahkan bisa jadi sebaliknya, tingkat ketaatan seseorang akan sepadan dengan tingkat ujian yang dialaminya. Betapapun usaha kita, tetaplah ingat bahwa suatu saat kita pasti akan mengalami suasana yang tidak kita inginkan. Maka, ketika suasana itu kita masuki, pahamilah bahwa kondisi tidak menyenangkan yang menghampiri hidup kita, dalam hal apapun, sesungguhnya laksana “polisi tidur” yang fungsinya sekadar memperlambat perjalanan. Ia hanya akan memperlambat sedikit saja perjalanan kita, tetapi selanjutnya kita akan menikmati perjalanan di atas jalan yang lebih rata. Jangan tinggal terlalu lama saat berada di “polisi tidur”. Berjalanlah terus, melangkahlah terus. Ketika kita kecewa karena tidak memperoleh apa yang kita inginkan, terimalah, senyumlah dan bergembiralah. Karena Allah pasti telah menyiapkan sesuatu yang lebih baik, dan lebih indah. Saat terjadi sesuatu pada diri kita, apakah itu baik, buruk, untung, rugi, pertimbangkan dan renungkan, karena pasti ada maksud untuk setiap kejadian.

Seseorang pernah berkata kepada Imam Syafi’i, “Wahai Abu Abdillah, mana yang lebih baik, orang yang tentram ataukah orang yang diuji? Ia menjawab, “Seseorang tidak akan merasa tentram kecuali setelah diuji. Allah telah menguji Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad. Ketika mereka bersabar, Allah menentramkan mereka. Ujian yang mereka alami sangat berat hingga tak seorangpun menyangka bahwa mereka dapat terlepas dari ujian tersebut.”

Kita tidak boleh meminta ujian kepada Allah SWT. Namun bila ujian itu menghampiri kita, berbahagialah. Jadikan ia adalah sarana yang mengingatkan kita untuk segera memperbaiki diri. Semoga Allah selalu menyertai langkah kita.

(Dikutip dari buku “Mencari Mutiara di Dasar Hati”, seri pertama, karangan Muhammad Nursani)

No comments:

Post a Comment

Post a Comment